Grup musik instrumental eksperimental asal Kabupaten Bandung, Basajan, merilis single terbaru berjudul “Nadoman”. Karya ini menjadi langkah awal menuju debut album penuh mereka dan dirilis menjelang bulan Ramadan.
“Nadoman” membawa pesan reflektif yang terinspirasi dari tradisi tutur di masyarakat Jawa Barat. Secara etimologis, nadoman atau nadzom merujuk pada tradisi melantunkan syair pujian, nasihat, atau ajaran agama dalam bahasa Sunda, yang kerap terdengar di langgar atau masjid sebelum waktu salat.
Bagi Basajan, nadoman dimaknai lebih luas sebagai medium kontemplasi atas nilai-nilai budaya. Dalam single ini, mereka menggali estetika nadoman yang identik dengan pola repetisi dan melodi khas Sunda, lalu menerjemahkannya ke dalam komposisi dengan ciri musik mereka.
Meski mengedepankan pendekatan baru, Basajan menyatakan tetap menjaga identitas seni tradisional tersebut. “Nadoman” ditempatkan dalam jalur Priangan psychedelic groove, memadukan ritme yang enerjik dengan lapisan suara berwarna untuk membangun harmoni yang mereka sebut transendental.
Basajan memandang nadoman sebagai pengingat hubungan antara manusia, Sang Pencipta, dan semesta. Gitaris Basajan, Adhitama Putra Prakarsa, menyampaikan bahwa komposisi ini ditujukan untuk menghadirkan ketenangan sekaligus transendensi, dalam ruang lantai dansa yang groovy namun tetap menyisakan elemen liar khas musik psikedelik.
Single ini juga melanjutkan eksplorasi musikal Basajan setelah rilisan sebelumnya. Jika lagu “1971” menghadirkan atmosfer mistis dan penuh kewaspadaan, “Nadoman” tampil lebih reflektif dan kontemplatif.
Aransemen instrumen yang kaya menunjukkan upaya Basajan membangun narasi melalui musik instrumental. Detail bebunyian dalam lagu ini turut dilengkapi artwork visual garapan Yuri Yeuyanan, yang disebut menerjemahkan esensi spiritual “Nadoman” ke dalam estetika grafis.

