Skena musik underground di Padang kembali diramaikan oleh kemunculan Bone Sight, band hardcore yang terbentuk pada 2025. Kuartet ini mulai menarik perhatian lewat karakter musik metalic hardcore yang memadukan energi hardcore dengan unsur groove death metal.
Bone Sight digawangi empat personel muda: Adan (vokal), Vadil (drum), serta Rafi dan Habib (gitar). Band ini berawal dari kebersamaan para personelnya yang kerap berkumpul dan menemukan kesamaan selera terhadap musik keras. Dari pertemanan itu, ide membentuk band muncul secara spontan.
“Awalnya dari nongkrong saja. Karena ternyata selera musik kami sama, akhirnya muncul ide untuk membentuk band,” ujar salah satu personel Bone Sight.
Nama Bone Sight dimaknai sebagai “membidik tulang”. Filosofi tersebut dinilai sejalan dengan karakter musik keras yang mereka pilih sejak awal. Dalam menentukan identitas musikal, Bone Sight sepakat bergerak di jalur metalic hardcore—perpaduan hardcore dengan elemen groove death metal—yang turut dipengaruhi latar ketertarikan sebagian personel pada death metal.
Dalam proses kreatif, mereka juga mengambil referensi dari sejumlah band hardcore internasional, seperti Whispers, Shattered Realm, dan Speed. Perpaduan pengaruh itu membentuk warna musik yang agresif dan berat, namun tetap mengandalkan groove yang kuat.
Meski tergolong baru, Bone Sight telah merilis delapan lagu yang mereka anggap dapat disebut sebagai EP atau bahkan album awal. Daftar lagu tersebut meliputi Intro, Stab Yo Move, Watch Your Step, Interlude, Stained Glass, Slight Vision, No Mercy, dan Become Hate. Rilisan ini menjadi pijakan awal mereka untuk memperkenalkan identitas di skena hardcore.
Untuk lirik, Bone Sight banyak mengangkat pengalaman pribadi para personel. Tema yang diangkat dekat dengan keseharian, mulai dari pengkhianatan dalam pertemanan, sikap bermuka dua, hingga budaya senioritas yang masih sering ditemui di lingkungan sosial. Bagi mereka, lirik menjadi medium untuk mengekspresikan realitas yang dialami.
Di balik musik yang keras, Bone Sight juga membawa misi mengubah stigma terhadap hardcore yang kerap dipandang identik dengan kekerasan. Mereka menilai hardcore memiliki nilai solidaritas dan ruang ekspresi yang lebih luas.
“Tantangan kami adalah membuat orang paham bahwa hardcore bukan genre kekerasan. Hardcore lebih dari sekadar moshing atau ajang terlihat paling kuat,” kata mereka.
Dalam perjalanan awalnya, salah satu panggung yang paling berkesan bagi Bone Sight adalah saat tampil di acara Roar on Friday. Penampilan itu terasa istimewa karena bertepatan dengan release party album mereka, sekaligus menghadirkan sejumlah band lain yang dinilai memiliki kualitas musikal tinggi.
“Roar on Friday menjadi panggung yang paling berkesan karena itu juga menjadi release party album kami,” ujar mereka.
Ke depan, Bone Sight berharap perkembangan musik underground di Sumatera Barat terus meningkat, terutama dalam pemahaman terhadap genre hardcore dan musik underground secara umum. Mereka ingin masyarakat melihat hardcore sebagai ekspresi seni, bukan sekadar simbol gaya hidup atau ajang pamer kekuatan.
“Semoga semakin banyak orang yang memahami bahwa hardcore bukan hanya untuk terlihat keren, tetapi juga memiliki pesan dan nilai di dalamnya,” ungkap mereka.
Selain itu, Bone Sight juga menyiapkan proyek berikutnya berupa rencana merilis EP baru berisi lima lagu dengan konsep yang disebut lebih gelap dibanding karya sebelumnya. Mereka juga berupaya menghadirkan karakter suara yang lebih berat dan intens untuk memperkuat identitas musikal band tersebut.

