Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) resmi digelar pada 8–11 Desember 2025 di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta. Pada tahun pertama penyelenggaraannya, festival ini menegaskan diri sebagai ruang laboratorium kreatif yang menempatkan proses penciptaan karya sebagai pusat perhatian.
Selain menampilkan pertunjukan teater, BUDAmFEST menghadirkan program dialog publik, forum direktur festival, serta peluncuran publikasi terbaru. Rangkaian ini menjadi titik temu bagi seniman dan penggiat seni pertunjukan dari berbagai wilayah di Indonesia hingga mancanegara.
Berbeda dari festival yang menonjolkan hasil akhir produksi, BUDAmFEST memfokuskan perhatian pada perjalanan artistik yang melahirkan karya. Festival ini merupakan bagian dari MTN Lab Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, program yang dirancang untuk memberikan pendampingan berkelanjutan kepada seniman sekaligus membuka peluang tampil di panggung nasional maupun internasional.
Direktur Bina Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Irini Dewi Wanti, menyatakan pemerintah tidak hanya berperan sebagai penyedia fasilitas, tetapi juga penggerak yang menghubungkan potensi seniman dengan jejaring yang lebih luas. Ia menyebut MTN Pertunjukan memberi peluang bagi talenta daerah untuk berkembang melalui akses yang lebih merata dan terbuka. “Dengan cara ini, kami berharap para seniman daerah dapat berkembang lebih optimal, memiliki akses yang lebih besar ke berbagai platform, serta turut memperkaya dinamika seni pertunjukan nasional,” ujarnya.
Direktur BUDAmFEST, Wulan Pusposari, menekankan festival ini dibangun sebagai ruang belajar lintas generasi yang terus bergerak. Melalui pendekatan terbuka, seniman diajak mengembangkan metode baru dalam penciptaan sekaligus memperluas jejaring kolaborasi. “BUDAmFEST adalah ruang belajar bersama yang menolak selesai. Festival ini menandai dua dekade perjalanan Lab Teater Ciputat (LTC) dalam merawat proses kreatif lintas generasi,” kata Wulan.
BUDAmFEST berakar dari praktik kreatif DAPUR LTC, ekosistem penciptaan yang dibangun Lab Teater Ciputat sejak 2005. LTC mengembangkan lima instrumen penciptaan utama—Bongkar Muat, Napak Tilas, Napak Tilas Kolektif, Jalin Karya, dan Silang Teks—yang menjadi kerangka kerja dalam riset, tafsir, dan penyusunan pertunjukan. Pendekatan ini menekankan pencarian bentuk, eksplorasi tubuh, analisis teks, serta pengalaman kolektif dalam proses artistik para kreator.
Pada penyelenggaraan tahun ini, kolaborasi menjadi salah satu ciri utama. Keterlibatan program Jejaring Produser Pertunjukan Indonesia (JPPI) disebut membuka kemungkinan distribusi yang lebih luas serta memperdalam dialog mengenai strategi produksi di tengah ekosistem seni pertunjukan yang dinamis.
Rangkaian karya yang ditampilkan merupakan hasil dari tiga kelas penciptaan yang berbeda. Dari kelas Silang Teks, festival menghadirkan karya kolaboratif Indonesia–Korea berjudul Dreams, adaptasi Lee Seon-yeon, Rosida Erowati, dan Hyoung Taek-lim terhadap naskah A Midsummer Night’s Dream karya William Shakespeare. Karya ini disutradarai Rangga Bhuana dan Hyoung Taek-lim, dengan aktor lintas disiplin seperti Sri Qadariatin, Siti Rukoyah Chan, dan Bangkit Sanjaya.
Dari kelas Bongkar Muat, tampil Liar Lear karya Iskandar GB dan Ari Pahala Hutabarat yang mengolah King Lear ke dalam bentuk baru, serta Malam Tanpa Akhir karya Dyah Ayu Setyorini dan Rio Eka yang mengangkat ulang Sotoba Komachi dalam lanskap panggung puitik. Program internal Un-Loading juga menampilkan Distrik Terakhir karya Riky Arief Rahman, adaptasi dari Endgame karya Samuel Beckett yang mengeksplorasi teknik akting dari stilisasi klasik hingga eksperimen ruang.
Sementara dari kelas Napak Tilas, dua karya menunjukkan dialog antara narasi tradisi dan estetika kontemporer. Fajar Eka Putra menampilkan Malin Kundang Lirih, adaptasi naskah Pandu Birowo yang mengeksplorasi ingatan kolektif atas cerita rakyat. Alfian Darmawan menghadirkan Egol Ngger, karya yang diolah dari teks Gepeng Nugroho dan Kiki Maundri melalui pendekatan tubuh yang ritmis serta tafsir ritual.
BUDAmFEST juga melibatkan kolaborator eksternal. Mimi Nuryanti dari Lanjong Art Festival bekerja sama dengan Ngaos Art memproduksi Made in China karya AB Asmaradana. Selain itu, hadir Buku Kredit, karya Jamaludin Latif dengan naskah yang ditulis Panca Lintang Dyah Paramitha. Keterlibatan lintas komunitas dan lintas daerah ini memperluas spektrum pertemuan gagasan dalam festival.
Dalam rangka perayaan 20 tahun Lab Teater Ciputat, BUDAmFEST meluncurkan buku Yang Berlalu: Kumpulan Naskah Pertunjukan dan Catatan Proses LTC 2005–2019. Publikasi ini mendokumentasikan bagaimana instrumen penciptaan LTC dibangun, diuji, dan diwariskan, sekaligus menegaskan komitmen LTC pada tiga fondasi kerja: menghasilkan pertunjukan, mengembangkan instrumen penciptaan, dan membangun arsip naskah.
Selain pertunjukan, festival menghadirkan Dialog Pertunjukan sebagai ruang refleksi antara kreator dan penonton mengenai proses artistik. Forum Direktur Festival juga menjadi bagian dari agenda, mempertemukan pengelola festival dari dalam negeri untuk berbagi perspektif tentang strategi pengembangan ekosistem seni pertunjukan nasional.
Selama empat hari penyelenggaraan, delapan karya teater dan sejumlah pertunjukan lintas genre ditampilkan dengan format yang menjaga kedekatan antara seniman dan audiens. Penyelenggara menyebut suasana intim ini membuka ruang percakapan serta pertemuan ide tanpa jarak yang kerap muncul di panggung besar, sekaligus diharapkan menjadi simpul pertukaran gagasan dan langkah menuju keberlanjutan seni pertunjukan di Indonesia.
Seluruh rangkaian BUDAmFEST 2025 dapat diakses gratis, dengan pengunjung hanya membayar tiket masuk Museum Kebangkitan Nasional sebesar Rp5.000 per orang. Informasi jadwal acara tersedia melalui akun Instagram @labteaterciputat.
Lab Teater Ciputat (LTC) berdiri sejak 2005 di Ciputat, Tangerang Selatan, sebagai ruang berkarya bagi pegiat teater dengan orientasi pada penciptaan artistik yang inklusif dan berakar pada persoalan sosial masyarakat. Dalam perjalanannya, LTC berkembang sebagai wadah riset dan eksplorasi lintas disiplin melalui diskusi, observasi, penelitian, workshop, hingga live in. Fokusnya kerap berada pada isu-isu urban dan spiritualitas yang melahirkan pendekatan pelatihan berbasis pengalaman untuk diterapkan di berbagai komunitas sosial di Indonesia.

