BERITA TERKINI
Dokter Vu Xuan Thanh Menyuarakan Kisah Profesi Medis Lewat Lagu

Dokter Vu Xuan Thanh Menyuarakan Kisah Profesi Medis Lewat Lagu

Dalam dua tahun terakhir, nama Dr. Vu Xuan Thanh dikenal di Facebook, YouTube, dan kalangan mahasiswa kedokteran bukan hanya karena profesinya, tetapi juga lewat lagu-lagu bertema dunia medis yang ia tulis. Karya-karyanya menuai ribuan hingga puluhan ribu tanda suka, dibagikan, dan dikomentari, karena dianggap menyentuh dan dekat dengan pengalaman para tenaga kesehatan.

Kepada majalah Health & Life, Thanh bercerita bahwa ketertarikannya pada musik sudah muncul sejak kecil. Ia mengaku tidak pernah menempuh pendidikan musik formal. Meski begitu, ide-ide lagu kerap datang secara spontan, misalnya dari catatan singkat setelah operasi panjang atau dari kisah khusus bersama pasien.

Menurutnya, tekanan dalam profesi medis sangat besar—mulai dari tuntutan profesional, tanggung jawab, hingga beban emosional. Karena itu, ia tidak memandang musik semata sebagai cara meredakan stres, melainkan sarana untuk “merekam” cerita-cerita yang sering kali tidak sempat diungkapkan dengan kata-kata.

Dalam proses produksi, Thanh menyebut menggunakan AI sebagai alat bantu untuk aransemen, penyelarasan, dan pemrosesan suara. Namun, ia menegaskan lirik dan semangat lagu tetap bersumber dari pengalaman nyata. Baginya, teknologi hanya membantu mengekspresikan gagasan secara lebih utuh, tetapi tidak dapat menggantikan emosi.

Sejumlah lagu yang telah ia tulis merekam perjalanan dan potret berbagai peran di dunia kesehatan. Di antaranya “Love in the Medical School” yang menggambarkan masa sebagai mahasiswa kedokteran, “White Coat of Dreams” tentang proses belajar sebagai dokter residen dan menjadi dosen, “The Teacher in a White Coat” mengenai sosok pengajar di bidang medis, serta “Doctors Are Just Ordinary People Too”, “Hurry But Dedicated”, dan “Nurses - The Silent Ones” yang menyoroti sisi manusiawi dokter serta pengorbanan perawat dan teknisi. Ia juga menulis “Tet of White Coats” tentang libur Tet bagi tenaga kesehatan, dan lagu terbaru “If One Day I Have to Leave...” yang mengangkat kekhawatiran pekerja kesehatan di fasilitas umum.

Dari semua karya itu, Thanh menyebut “Doctors Are Just Ordinary People” sebagai favoritnya. Lagu tersebut, katanya, mengingatkan bahwa di balik jas putih ada manusia biasa dengan emosi, kekhawatiran, kegembiraan, dan keterbatasan. Pesan itu membuatnya semakin menghargai profesi yang dipilihnya dan ingin terus mengabdi.

Meski karyanya mendapat respons luas, Thanh menolak anggapan bahwa ia ingin mengejar pasar atau ketenaran. Ia menegaskan dokter dan dosen tetap menjadi profesi utama yang akan ia tekuni seumur hidup. Saat ini, ia terlibat dalam pengobatan dan pengajaran di universitas, termasuk melatih serta membimbing dokter residen dan mahasiswa pascasarjana di bidang trauma ortopedi dan rehabilitasi di Universitas Kedokteran dan Farmasi Kota Ho Chi Minh. Ia juga terlibat dalam proyek penelitian dan menulis makalah yang diterbitkan di jurnal ilmiah dalam dan internasional, sembari terus memperbarui pengetahuan untuk meningkatkan keterampilan profesional.

“Bagi saya, hanya ketika saya bekerja, mempraktikkan profesi saya, saya memiliki lebih banyak materi untuk menggubah musik,” ujarnya. Ia menilai musik adalah bagian yang memperkaya hidupnya dan membantunya melepas ketegangan setelah operasi sulit maupun setelah mengajar.

Thanh mengaku menerima banyak tanggapan, terutama dari kolega dan pasien. Sejumlah mahasiswa kedokteran menyampaikan bahwa mereka merasa lebih bangga terhadap jalan yang dipilih. Beberapa kolega mengatakan mendengarkan lagu-lagunya setelah shift melelahkan dan merasa “dipahami”. Dari sisi pasien, ada yang menyebut lagu-lagu tersebut membantu mereka memahami pekerjaan di balik pintu ruang operasi. Bagi Thanh, hal itu menjadi nilai paling berharga ketika musik dapat menjadi jembatan antara dokter dan masyarakat.

Ia juga menyadari tidak semua orang akan setuju atau menyukai karyanya. Menurutnya, perbedaan respons adalah hal wajar karena musik bersifat personal. Ia menegaskan tidak memosisikan diri sebagai musisi profesional, melainkan dokter yang menggunakan musik untuk menceritakan profesinya. Ia menyatakan terbuka terhadap masukan profesional untuk memperbaiki diri, dan tetap menghormati komentar yang didorong oleh emosi.

Menjelang Hari Dokter Vietnam pada 27 Februari, Thanh menyampaikan harapannya agar masyarakat lebih memahami profesi medis secara utuh—bukan hanya citra tenaga kesehatan di ruang gawat darurat atau meja operasi, tetapi juga sebagai manusia dengan emosi, kekhawatiran, dan malam-malam tanpa tidur memikirkan pasien. Ia mengatakan tengah mengerjakan lagu baru bertema ungkapan terima kasih bagi mereka yang bekerja di bidang kedokteran, termasuk perawat, petugas medis, teknisi, dan orang-orang yang bekerja di balik lampu ruang operasi. Jika selesai tepat waktu, ia berharap dapat merilisnya pada 27 Februari sebagai “hadiah spiritual” bagi rekan-rekannya.