Sejumlah pelaku industri musik dari berbagai generasi berkumpul dalam forum diskusi bertajuk “Beda Masa Satu Rasa” di Jakarta, Kamis (5/3). Kegiatan ini digelar menjelang peringatan Hari Musik Nasional yang jatuh setiap 9 Maret.
Diskusi menghadirkan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha sebagai keynote speaker, bersama musisi sekaligus produser Harry Koko Santoso. Forum tersebut menjadi ruang dialog bagi musisi, produser, dan pegiat industri kreatif untuk membahas dinamika serta masa depan ekosistem musik Indonesia di tengah perubahan era digital.
Acara yang digelar komunitas Cita Svara Indonesia itu berlangsung di CC Cafe at Nancy’s Place dan mempertemukan tokoh musik lintas generasi. Tema “Beda Masa Satu Rasa” dipilih untuk menggambarkan pertemuan perspektif dari era industri analog hingga generasi digital yang berkembang melalui platform streaming dan media sosial. Komposer dan konduktor Addie MS juga hadir dan menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan musik nasional.
Dalam paparannya, Giring menyoroti perubahan besar di industri musik akibat perkembangan teknologi digital. Menurutnya, musisi saat ini tidak hanya dituntut menciptakan karya, tetapi juga memahami ekosistem industri secara menyeluruh.
“Sekarang musik tidak hanya bicara soal siapa penciptanya atau siapa penyanyinya. Seorang artis atau band harus memahami banyak hal, mulai dari bisnis musik, storytelling karya, hingga memaksimalkan media sosial,” ujar Giring.
Giring menilai peran musisi kini semakin kompleks karena juga dituntut membangun identitas sebagai sebuah merek. “Musisi juga harus bisa mengelola brand-nya sendiri, mempromosikan karya, bahkan sampai menjual merchandise,” katanya.
Ia juga menyoroti meningkatnya popularitas musik berbahasa daerah di berbagai platform digital. Fenomena tersebut, menurutnya, menunjukkan besarnya potensi keberagaman musik Indonesia untuk berkembang di pasar global.
“Justru di era sekarang musik berbahasa daerah memiliki peminat yang sangat besar. Banyak karya dari berbagai daerah yang jumlah penontonnya mencapai puluhan bahkan ratusan juta,” ujar Giring.
Giring menambahkan, kekayaan budaya Indonesia merupakan kekuatan yang dapat memperkuat posisi musik nasional di industri global. Dalam forum itu, ia juga menegaskan pengembangan industri musik tidak dapat berjalan optimal tanpa kolaborasi lintas sektor.
Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak—mulai dari ekonomi kreatif, regulasi hak kekayaan intelektual, hingga sektor pariwisata—dibutuhkan untuk membangun ekosistem musik nasional yang sehat. “Kami di kementerian ingin terus mendengar masukan dari komunitas musik. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri sangat penting untuk membangun ekosistem musik yang sehat,” tutupnya.

