Musisi sekaligus pendiri band rock legendaris Indonesia, God Bless, Donny Fattah, meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kabar duka itu diumumkan langsung melalui unggahan akun Instagram resmi God Bless pada Sabtu (7/3).
Donny Fattah, yang memiliki nama lengkap Jidon Patta Onda Gagola, mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. God Bless menyampaikan belasungkawa dan permohonan maaf atas kesalahan almarhum serta doa agar amal dan kebaikannya diterima.
Dalam perjalanan panjang God Bless sejak era 1970-an, Donny dikenal sebagai salah satu pilar penting. Permainan bassnya disebut membentuk karakter musik rock Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari identitas musikal God Bless selama puluhan tahun melintasi berbagai generasi pendengar.
Donny lahir pada 24 September 1949 dan mulai mengenal dunia musik sejak remaja. Musisi berdarah Maluku Utara ini menapaki panggung musik pada pertengahan 1960-an. Pada 1965, ia membentuk band Harbour Beat bersama Bartje Van Houten dan Minggus Tahitoe. Ia kemudian bergabung dengan grup Fancy Junior pada 1968.
Fase penting kariernya terjadi ketika ia bersama Achmad Albar, Fuad Hassan, Yockie Suryoprayogo, dan Ludwig Lemans membangun fondasi band yang kelak dikenal sebagai God Bless. Kelompok itu mula-mula tampil dengan nama Crazy Wheels dan kerap bermain di Lemans Pub, sebelum resmi membentuk God Bless pada 5 Mei 1973. Nama God Bless kian dikenal setelah tampil di panggung Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Sebagai bassist, Donny dikenal dengan gaya permainan yang khas dan kerap melakukan improvisasi saat tampil. Ia juga disebut terinspirasi oleh sejumlah bassist dunia, seperti Stanley Clarke dan Geddy Lee dari band Rush. Salah satu ciri menonjol dari permainannya adalah penggunaan teknik funky thump yang dipopulerkan Stanley Clarke, yang kemudian ikut dikenal di kalangan musisi lokal dan disebut memengaruhi pemain bass di Malaysia dan Singapura.
Selama berkarier bersama God Bless, Donny turut terlibat dalam sejumlah karya yang akrab di telinga penggemar rock Indonesia, di antaranya “Semut Hitam”, “She Passed Away”, “Musisi”, “Anak Adam”, hingga “Setan Tertawa”.
Di tengah padatnya jadwal God Bless pada periode 1974-1976, Donny sempat mengerjakan proyek lain bersama adiknya, Rudy Gagola, melalui proyek D&R (Donny dan Rudy Gagola). Album perdana mereka, Bawaku Serta, dirilis pada 1975 di bawah label Pramaqua dan disebut mendapat sambutan luas, dengan lagu populer seperti “Mimpi” dan “Datanglah Trang”. Proyek ini melibatkan sejumlah musisi dan penyanyi, termasuk Achmad Albar, Ida Noor, Djatu Parmawati, serta dukungan musisi seperti Jockie Surjoprajogo, Keenan Nasution, Aries, Tommy, dan Leo.
D&R berlanjut lewat album kedua, Episode, yang dirilis pada 1978 oleh Jakson Records & Tapes. Album ini menghadirkan pendekatan berbeda dengan lirik yang lebih banyak memuat kritik sosial serta penggunaan berbagai efek suara.
Saat God Bless sempat mengalami masa vakum, Donny tetap aktif dalam berbagai proyek musik. Pada 1990, ia bergabung dalam proyek Kantata atas ajakan Setiawan Djody, yang menghasilkan album Kantata Takwa dan berlanjut melalui Kantata Samsara, Kantata Takwa Samsara, serta album konser pada 1999.
Selain itu, Donny juga bergabung dengan Gong 2000 yang dipimpin Ian Antono. Bersama grup tersebut, ia terlibat dalam sejumlah album seperti Bara Timur, Laskar, dan Prahara, serta album konser Live in Jakarta 1992 dan 1 Jam Bersama Gong 2000. Dalam formasi ini, ia juga aktif menulis lagu, di antaranya “Basa-Basi”, “Mulut-Mulut”, dan “Penantian”.
Pada 2002, Donny kembali berkumpul dengan rekan-rekannya untuk menghidupkan lagi God Bless. Ia bersama Ian Antono dan Achmad Albar sepakat membentuk kembali band tersebut dengan formasi baru, mengajak Abadi Soesman yang pernah bergabung pada era 1979-1981, serta dua musisi muda, Iwang Noorsaid dan Inang Noorsaid. Formasi ini kembali menarik perhatian publik, termasuk melalui tur dari kafe ke kafe yang dipadati penggemar lama maupun generasi baru pecinta musik rock.

