Jakarta: Isyana Sarasvati kembali menjadi perhatian setelah mengumumkan proyek terbarunya bertajuk ABADHI pada awal Februari 2026. Karya ini diperkenalkan sebagai babak pamungkas dari rangkaian album EKLEKTIKO, yang dikenal menampilkan eksplorasi genre secara berani.
Dalam beberapa waktu terakhir, ABADHI memicu pro dan kontra di kalangan warganet. Perdebatan antara lain dipicu penggunaan simbol mata satu berwarna merah yang tampil dominan dalam elemen visualnya. Sebagian warganet berspekulasi mengenai makna tersembunyi di balik estetika tersebut, bahkan mengaitkannya dengan isu okultisme.
Di jagat digital, komentar beragam bermunculan. Sejumlah penggemar mengaku rindu dengan citra pop manis Isyana pada masa lalu. Di platform Threads, beberapa warganet menyoroti perubahan konsep musik Isyana yang dinilai drastis, lebih gelap, dan dianggap tidak mudah dicerna.
Tudingan mengenai simbolisme tertentu juga muncul dari warganet yang menghubungkan elemen visual itu dengan teori konspirasi global yang kontroversial. Mereka mempertanyakan apakah arah kreatif Isyana semata-mata bentuk ekspresi seni atau mengandung pesan tertentu yang dianggap tabu.
Di tengah perdebatan tersebut, Isyana tetap dikenal sebagai musisi dengan latar pendidikan musik formal. Transformasi artistiknya dari penyanyi pop ke pendekatan yang lebih eksperimental disebut berangkat dari fondasi akademik yang kuat di ranah musik klasik.
Mengutip laman Schoters, Isyana Sarasvati lahir pada 2 Mei 1993 dan mengasah kemampuan bermusik sejak kecil. Prestasi internasionalnya tercatat pada 2008, ketika karya berjudul “Wings of Your Shadow” masuk dalam jajaran komposisi terbaik di International Junior Original Concert, Jepang.
Karier Isyana di industri musik populer Indonesia dimulai pada 2014. Sejak itu, ia merilis karya dengan ragam pendekatan, dari nuansa pop di album Explore! dan Paradox, hingga sentuhan neoklasik-rock dalam Lexicon. Ia juga mengelola karier dan bakat-bakat baru melalui label musiknya sendiri, Redrose Records, yang disebut telah diresmikan sejak empat tahun lalu.
Dalam rekam jejak pendidikannya, disebutkan Isyana tidak menyelesaikan pendidikan SMA secara formal karena menempuh jalur “Fast Track”. Saat masih SMP, ia memperoleh beasiswa penuh dari pemerintah Singapura untuk belajar musik di Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA).
“Aku lumayan bisa dibilang beruntung karena dapat beasiswa dari Singapura, jadi bisa langsung lompat dari SMP ke kuliah,” ujar Isyana, dikutip dari Youtube Tonight Show, Jumat, 6 Maret 2026.
Di NAFA Singapura, Isyana mengambil program diploma bidang Music Performance dengan mayor Vokal Opera dan minor Komposisi. Ia disebut telah menjadi pianis sejak kecil, namun cedera tangan akibat kecelakaan sebelum audisi membuatnya beralih ke mayor vokal.
Setelah menyelesaikan studi di Singapura, Isyana melanjutkan pendidikan ke Royal College of Music (RCM), London, untuk jenjang sarjana (S1) dengan beasiswa penuh. Di sana, ia mengasah kemampuan seriosa serta pemahaman teori musik hingga lulus dengan predikat memuaskan.
Di tengah kritik warganet terhadap perubahan genre dan berbagai spekulasi terkait simbol yang diperdebatkan, Isyana disebut terus menunjukkan konsistensi bahwa karya-karyanya lahir dari pemikiran artistik. Ia juga disebut memiliki cita-cita di bidang pendidikan, yakni mendirikan sekolah musik untuk membagikan kurikulum dan ilmu yang ia peroleh selama belajar di Singapura dan London.
Dengan latar akademik tersebut, ABADHI dipandang sebagai bagian dari kebebasan kreatif Isyana dalam berekspresi, di tengah respons publik yang beragam terhadap estetika visual dan arah musikal yang ia pilih.

