Suasana panas Kota Dobo menyelimuti Aula PSDKU Universitas Pattimura (Unpati) Kepulauan Aru pada Sabtu sore, 4 Oktober 20205, saat Rumah Sastra Arafura (RSA) menggelar pentas karya. Kegiatan komunitas seni dan sastra lokal itu disebut didukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta berkolaborasi dengan Unpati.
Dalam pertunjukan tersebut, para penampil memasuki panggung secara bergantian, memulai adegan dengan diam sebelum kata-kata terucap perlahan. Potongan-potongan puisi menjadi inti pementasan, menghadirkan suasana yang menempatkan puisi bukan sekadar dibacakan, melainkan dihidupkan di atas panggung.
Teater “Winka & Shika” merupakan adaptasi dari puisi berjudul sama yang kemudian diolah menjadi naskah teater oleh Rumah Sastra Arafura. Puisi itu ditulis Sutardji Calzoum Bachri dengan gaya eksperimental, antara lain memecah kata, membalik suku kata, serta menata tipografi zigzag di halaman. Dalam puisi tersebut, terdapat pemotongan dan pembalikan suku kata, misalnya dari “kawin” menjadi “winka”, serta variasi “kasih” menjadi “sihka” atau “shika”. Dua nama itu tidak merujuk pada tokoh nyata, melainkan permainan bunyi dari kata “kawin” dan “kasih”, yang diacak dan dibalik untuk menggambarkan sesuatu yang utuh dapat terpecah, cinta berubah bentuk, dan hubungan dapat berujung tragedi.
Alih-alih mengubah puisi menjadi dialog yang konkret, RSA memilih mempertahankan struktur puitiknya. Dengan pendekatan tersebut, panggung menjadi ruang perenungan, tempat para tokoh menghidupkan kata-kata tanpa menghilangkan keheningan yang menyertainya.
Tata panggung disebut minimalis, dengan satu panggung dan permainan cahaya seadanya, namun dinilai mampu membangun atmosfer yang kuat. Pertunjukan ini dibawakan sekitar 11 remaja, terdiri dari dua laki-laki dan sembilan perempuan. Di antara mereka ada sepasang pemeran pengantin laki-laki dan perempuan, seorang perempuan yang memerankan ibu sambil menggendong bayi, sementara lainnya memainkan peran dari berbagai profesi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pementasan itu, para pemeran tidak berupaya menjelaskan makna puisi secara gamblang, melainkan menghadirkannya melalui tubuh, tempo, dan intonasi. Gerak menjadi padanan bagi tipografi zigzag Sutardji, sementara perubahan ritme menegaskan keanehan bunyi yang menjadi ciri khas puisinya.

