Band rock asal Inggris, Radiohead, mengecam penggunaan lagu mereka, “Let Down”, tanpa izin oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat dalam sebuah unggahan media sosial yang mendukung Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE). Radiohead menuntut agar video tersebut dihapus karena dinilai menyalahgunakan karya mereka untuk kepentingan konten pro-ICE.
Video yang dimaksud diunggah melalui akun media sosial ICE @icegov pada 19 Februari. Dalam unggahan itu, “Let Down”—lagu dari album OK Computer (1997)—dipakai sebagai musik latar, mengiringi foto-foto individu yang disebut sebagai pihak yang terdampak oleh kehadiran imigran.
Unggahan tersebut juga menyertakan narasi bahwa ribuan keluarga di Amerika Serikat telah hancur akibat kekerasan yang dilakukan oleh “alien ilegal”. Mereka mengklaim terdapat warga negara AS yang diperkosa dan dibunuh oleh “mereka yang tidak berhak berada di negara kita”, dan menutup pernyataannya dengan kalimat, “Inilah yang kita perjuangkan. Inilah alasan kita.”
Dalam video itu, bagian lirik “Let Down” yang digunakan antara lain: “You know where you are with/ You know where you are with/ Floor collapses, floating/ Bouncing back/ And one day I am gonna grow wings/ A chemical reaction/ Hysterical and useless.”
Menanggapi hal tersebut, Radiohead menyampaikan keberatan secara tegas. Melalui pernyataan resmi yang dikutip NME, mereka meminta pengelola akun media sosial ICE menghapus video itu. “Gak lucu. Lagu ini sangat berarti buat kita dan orang-orang lain. Kalian gak bisa mengklaimnya tanpa perlawanan,” tulis Radiohead. Mereka menambahkan, “Persetan kalian.”
“Let Down” sebelumnya kembali ramai dibicarakan setelah viral di TikTok pada akhir tahun lalu. Vokalis Radiohead, Thom Yorke, sempat mengaku terkejut karena ia pernah berupaya keras agar lagu tersebut tidak masuk ke album. Namun, setelah gitaris Ed O’Brien mengancam akan keluar dari band jika rekaman itu tidak dimasukkan, Yorke akhirnya menyetujuinya. Menurut anak-anak Yorke yang berusia 18 dan 21 tahun, lagu itu kembali digemari karena banyak remaja menyukai musik bernuansa depresif seperti karya Radiohead.
Kasus ini disebut bukan pertama kalinya ICE menuai kritik dari musisi terkait penggunaan lagu tanpa izin. Pada November tahun lalu, Olivia Rodrigo menegur organisasi tersebut karena menggunakan penggalan lagu “All-American Bitch” dalam video yang menampilkan petugas ICE menangkap dan menahan orang-orang secara paksa. “Jangan pernah menggunakan lagu-laguku untuk mempromosikan propaganda rasis dan penuh kebencianmu,” tulis Rodrigo.
Sabrina Carpenter juga mengomentari penggunaan lagunya, “Juno”, tanpa izin, yang mengiringi video penangkapan paksa terhadap orang-orang yang dianggap imigran ilegal. “Video ini jahat dan menjijikkan. Jangan pernah melibatkan aku atau musikku untuk mendukung agenda tidak manusiawi kalian,” komentar Carpenter.
Di sisi lain, Bruce Springsteen disebut mengizinkan penggunaan lagu “Born In The USA” untuk konten anti-ICE. Tahun ini, ia juga menulis lagu protes anti-ICE berjudul “Streets Of Minneapolis”. Sejumlah artis dan selebriti lain turut disebut pernah angkat bicara, termasuk Lady Gaga, Billie Eilish, Green Day, Neil Young, Moby, Zara Larsson, Joe Keery, Duran Duran, dan Dave Matthews.

