Sasando merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, tepatnya Pulau Rote. Instrumen ini dikenal memiliki cara memainkan dan karakter suara yang khas. Selama berabad-abad, sasando menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat, sekaligus simbol budaya di wilayah tersebut.
Dalam catatan yang dirujuk dari jurnal Evolusi Sasando: Perubahan dan Perkembangan Sasando Ditinjau dari Segi Pertunjukkan karya Apris Yulianto Saefatu, sasando tidak hanya dikenal di lingkup lokal. Perhatiannya juga mulai meluas ke tingkat nasional seiring perkembangan pertunjukan dan pengenalan budaya.
Asal-usul sasando diyakini bermula dari Pulau Rote, wilayah paling selatan Indonesia. Instrumen ini disebut telah dikenal sejak abad ke-13 dan digunakan untuk mengiringi berbagai kegiatan masyarakat. Di tengah komunitas Rote, cerita tentang sasando juga hidup melalui legenda dan kisah rakyat, termasuk narasi mengenai seorang pemuda yang mendapat inspirasi menciptakan alat musik tersebut melalui mimpi.
Seiring perubahan zaman, sasando mengalami evolusi agar tetap relevan. Perubahan tidak hanya terjadi pada bentuk, tetapi juga pada cara sasando dipentaskan. Dari sisi material, sasando pada awalnya dibuat dari bambu dan daun lontar. Dalam perkembangannya, bahan modern seperti plastik mulai dilirik karena dinilai lebih tahan lama dan mudah dirawat.
Di sisi pertunjukan, sasando modern ikut beradaptasi dengan teknologi. Penggunaan amplifier maupun upaya digitalisasi suara menjadi salah satu bentuk inovasi yang membuat penampilan sasando semakin menarik dan dinilai lebih mudah diakses oleh generasi muda.
Perkembangan tersebut turut mendorong sasando tampil lebih sering di panggung yang lebih luas. Sasando kini semakin kerap hadir dalam ajang nasional bahkan internasional, didukung promosi serta festival budaya yang memperkenalkan alat musik ini ke berbagai kalangan.

