Kota Malang dijadwalkan menjadi tuan rumah konser musik bertajuk POLIPONI Si Paling Konser pada 20 Juni 2026 di Lapangan Rampal. Acara ini dirancang sebagai ruang temu lintas generasi dengan ragam warna musik, serta menawarkan pengalaman pertunjukan berskala besar di ruang terbuka.
Poliponi—yang dimaknai sebagai “banyak suara dalam satu harmoni”—disebut merepresentasikan semangat keberagaman musikal dalam satu panggung. Penyelenggara menyatakan konser ini juga ingin merayakan dinamika komunitas, kreativitas, dan energi Malang sebagai kota pendidikan dan budaya.
Co-Founder Letralive, Erwin Wibowo, menyampaikan pihaknya menyiapkan aspek teknis konser, termasuk sistem suara, pencahayaan, dan stage rig. “Kami akan memastikan peralatan pendukung konser Poliponi ini memuaskan para penggemar musik di Malang. Sistem, pencahayaan, dan stage rig dioptimalkan untuk memberikan pengalaman suara terbaik bagi penonton,” ujar Erwin, Selasa (24/2/2026).
Sejumlah musisi nasional telah dikonfirmasi tampil, di antaranya Barasuara, Fiersa Besari, dan Coldiac. Sheila On 7 juga digadang-gadang menjadi penampil utama. Band asal Yogyakarta itu disebut terakhir kali tampil di Malang sekitar tujuh tahun lalu, dan kehadiran mereka diharapkan dapat mengobati kerinduan penggemarnya di Malang dan Jawa Timur.
Barasuara disebut akan membawakan lagu “Terbuang Dalam Waktu” yang dikenal luas sebagai original soundtrack film “Sore” dan sempat viral di berbagai kota besar. Sementara itu, Fiersa Besari dijadwalkan kembali membawakan lagu-lagunya setelah sempat hiatus. Coldiac, yang disebut sebagai band asal Malang, turut ambil bagian dalam konser tersebut.
Penyelenggara menyatakan masih ada sejumlah penampil lain yang akan diumumkan dalam waktu dekat. “Kehadiran para musisi ini mencerminkan semangat polifoni, yakni beragam warna, energi, dan pendekatan musikal yang menyatu dalam satu panggung harmoni,” ungkapnya.
Creative Director Poliponi, Ari Wulu, mengatakan konser ini akan mengusung konsep yang segar dengan penekanan pada kualitas audio dan visual. “Penonton Poliponi akan menyaksikan konser dengan tata suara yang tepat serta pertunjukan visual cahaya yang menyatu dengan musik yang dibawakan para penampil,” kata Ari.
Pemilihan Malang sebagai lokasi penyelenggaraan dinilai strategis karena kota ini dikenal memiliki basis penikmat musik yang kuat serta ekosistem kreatif yang berkembang. Penyelenggara juga berharap Poliponi menjadi momentum bagi pergerakan industri pertunjukan musik di Jawa Timur pada pertengahan 2026.
Operational Director Poliponi, Radita Kus Hartono, menambahkan bahwa Malang juga dikenal sebagai destinasi wisata dengan beragam atraksi alam dan kuliner. Menurutnya, kehadiran konser diharapkan dapat turut mendorong sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. “Malang memiliki potensi wisata yang besar dan berdampingan dengan kota-kota wisata lain di Indonesia seperti Jogja, Bali, dan Bandung. Banyaknya mahasiswa dan pelajar membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis kreatif. Harapan kami, Poliponi dapat menjadi salah satu pendorong peningkatan ekonomi tersebut,” tutur Hartono.
Dari pihak Sheila On 7, personel sekaligus manajer band, Adam Subarkah, menyebut para personel merindukan tampil di Malang setelah terakhir bermain sebelum pandemi Covid-19. “Mungkin sheila lebih kangen karena ini menjadi kali pertama lagi kita kembali ke Malang setelah pandemi,” kata Adam.
Ia juga menyampaikan harapan dapat bertemu kembali dengan penggemar di Malang. Dengan target 20 ribu penonton, konser ini diharapkan menjadi ajang melepas rindu bersama Sheila On 7 dan penampil lainnya. “Ya kami ingin bertemu teman-teman di Malang. Kami ingin mewujudkan ini. Malang menyenangkan dan alhamdulilah akhirnya kita bisa hadir kembali ke sini,” ucapnya.

