BERITA TERKINI
Snada Reuni dengan Dwiki Dharmawan di Jakarta, Kenang Proses Penciptaan Lagu "Taubat"

Snada Reuni dengan Dwiki Dharmawan di Jakarta, Kenang Proses Penciptaan Lagu "Taubat"

Grup nasyid legendaris Snada kembali berkolaborasi dengan musisi Dwiki Dharmawan dalam sebuah pertemuan hangat di Gedung Philanthrophy, Jakarta, Kamis (26/2/2026). Para personel Snada berbagi panggung dengan Dwiki dalam suasana akrab yang sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan nostalgia atas karya-karya yang pernah mereka lahirkan bersama.

Dalam kesempatan itu, Dwiki dan Snada juga menyampaikan dorongan agar musik terus menjadi medium untuk menggulirkan kebaikan, khususnya untuk Sumatra-Aceh. Pertemuan tersebut turut membuka kembali kisah di balik lagu-lagu yang pernah populer dibawakan Snada, termasuk pengalaman kolaborasi yang terjadi sekitar dua dekade lalu.

Dwiki mengenang proses kreatif bersama Snada sebagai salah satu perjalanan musik yang berkesan. Ia menilai karakter suara masing-masing personel Snada memberi warna tersendiri pada komposisi yang ia buat pada masa itu.

Salah satu cerita utama yang dibahas adalah lahirnya lagu “Taubat”, yang disebut Dwiki tercipta secara spontan pada 2005. Saat itu, Snada tengah menjalani rekaman di studio milik Dwiki. Dari situ muncul ide untuk menambahkan satu lagu yang lebih mendalam dan menyentuh sisi spiritual pendengar.

“Tahun 2005, Snada lagi rekaman di studio saya. Ini Mas Lukman, Erwin, Teddy, dan Ikhsan ya. Terus, ‘Kang, bikin lagu dong satu lagi’. Terus saya semalamnya, semalam sebelumnya, saya spontan dengan Kang Teddy ke studio duluan. Treng… treng… treng… Terciptalah lagu ini, ‘Taubat’. Enggak tahu nih yang bikin liriknya Kang Teddy ini, enggak tahu sedang bikin dosa apa dia,” kata Dwiki.

Dwiki mengungkapkan melodi “Taubat” tersusun hanya dalam waktu semalam. Ia merasakan dorongan emosional yang kuat saat merangkai nada di studio. Spontanitas itu, menurutnya, justru melahirkan karya yang kemudian dicintai masyarakat luas.

Teddy, salah satu personel Snada yang menulis lirik lagu tersebut, turut memberi kesaksian. Menanggapi candaan Dwiki soal “dosa apa” yang dipikirkan saat menulis lirik, Teddy mengatakan karya yang jujur kerap lahir dari perenungan mendalam atau penderitaan batin.

“Memang sebuah karya itu lahir dari penderitaan atau kisah nyata. Kalau memang kita bertobat, mungkin itu inspirasinya dari diri kita ini pengen bertobat ya,” ujarnya.

Teddy menambahkan, lirik “Taubat” merupakan refleksi keinginan manusia untuk kembali ke jalan yang benar. Ia juga menyebut bimbingan musik Dwiki saat itu membantu mengarahkan emosi lagu, sehingga lirik yang puitis dan aransemen yang megah berpadu menjadi kekuatan utama karya tersebut.

Penonton yang hadir tampak larut dalam cerita di balik lagu yang kerap diputar saat Ramadan dan momen refleksi. Acara ditutup dengan harapan agar kolaborasi serupa dapat terus menginspirasi musisi muda untuk menciptakan karya dengan pesan moral yang kuat, sekaligus menegaskan musik bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menyampaikan kebaikan.