Sebuah survei global menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat “kemakmuran” atau kesejahteraan (flourishing) yang dirasakan warganya paling tinggi. Indonesia menonjol terutama pada aspek makna dan tujuan hidup, hubungan sosial, serta karakter, meski bukan pada dimensi keuangan.
Penilaian ini berasal dari Global Flourishing Study, proyek survei tahunan selama lima tahun yang melibatkan lebih dari 200.000 responden di 22 negara. Studi ini menggunakan sampel yang mewakili populasi nasional dan dikerjakan oleh lebih dari 40 peneliti lintas disiplin—termasuk psikologi, sosiologi, dan epidemiologi—dengan dukungan pengumpulan data bersama Gallup Inc.
Dalam studi tersebut, kemakmuran dipahami sebagai kondisi hidup yang tidak hanya terkait rasa senang sesaat, tetapi mencakup berbagai aspek kehidupan manusia secara menyeluruh. Konsep ini berkaitan dengan gagasan eudaimonia yang merujuk pada kehidupan bermakna dan penuh pencapaian.
Global Flourishing Study mengukur enam dimensi utama kemakmuran. Pertama, kebahagiaan dan kepuasan hidup. Kedua, kesehatan fisik dan mental. Ketiga, makna dan tujuan hidup. Keempat, karakter dan kebaikan. Kelima, hubungan sosial dekat, termasuk keluarga dan pertemanan. Keenam, stabilitas keuangan dan material, seperti rasa aman terhadap kebutuhan dasar.
Setiap dimensi dinilai dengan skala 0 sampai 10 menggunakan alat ukur Secure Flourish dari Program Kemakmuran Manusia Harvard. Selain itu, survei juga mencakup pertanyaan tambahan, antara lain tentang optimisme, kedamaian, keseimbangan hidup, rasa sakit, depresi, olahraga, kepercayaan, kesepian, dan dukungan sosial. Responden juga ditanya mengenai pengalaman masa kecil serta pandangan mereka tentang kondisi finansial.
Hasil gelombang pertama studi ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat kemakmuran antarnegara dan antarkelompok. Salah satu temuan yang disebut menonjol adalah kondisi generasi muda di banyak negara yang dinilai tidak sebaik generasi tua. Temuan ini berbeda dari pola yang kerap dilaporkan dalam literatur kesejahteraan, yakni pola “U-shaped” sepanjang rentang usia, dengan titik terendah pada usia paruh baya.
Dalam hasil terbaru ini, generasi muda digambarkan menghadapi tantangan meningkatnya masalah kesehatan mental, ketidakamanan finansial, serta hilangnya makna hidup, yang kemudian memengaruhi tingkat kesejahteraan mereka.
Studi juga mencatat sejumlah faktor yang berkaitan dengan skor kemakmuran. Mereka yang sudah menikah umumnya melaporkan dukungan sosial lebih baik, hubungan yang lebih kuat, dan makna hidup yang lebih dalam. Orang yang bekerja—baik untuk diri sendiri maupun orang lain—cenderung merasa lebih aman dan bahagia dibandingkan mereka yang sedang mencari pekerjaan.
Selain itu, responden yang menghadiri layanan keagamaan seminggu sekali atau lebih sering dilaporkan memiliki skor tinggi di berbagai aspek kemakmuran, terutama kebahagiaan, makna, dan hubungan sosial, termasuk di negara yang tergolong sekuler. Dalam kajian psikologi agama, fenomena ini dijelaskan melalui “empat B”: belonging (dukungan sosial), bonding (koneksi spiritual), behaving (penguatan karakter melalui norma), dan believing (harapan serta keyakinan bersama).
Pengalaman masa kecil juga dinilai memengaruhi kemakmuran di kemudian hari, meski tidak selalu menentukan sepenuhnya. Di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Argentina, tantangan masa kecil disebut dapat membentuk ketahanan dan tujuan hidup ketika dewasa. Secara global, tingkat kemakmuran pria dan wanita dilaporkan relatif serupa, meski terdapat variasi di sejumlah negara.
Dalam perbandingan antarnegara, Indonesia termasuk yang menonjol. Warga Indonesia mencatat skor tinggi pada makna dan tujuan hidup, hubungan sosial, serta karakter, meski tidak pada dimensi keuangan. Pola serupa juga terlihat pada Meksiko dan Filipina, yang menunjukkan hasil kuat meski ekonominya tidak sebesar sejumlah negara lain, dengan faktor seperti ikatan keluarga, kehidupan spiritual, dan dukungan komunitas yang erat.
Di sisi lain, Jepang dan Turki dilaporkan mencatat skor lebih rendah. Jepang, meski memiliki ekonomi kuat, disebut memiliki kebahagiaan dan koneksi sosial yang lemah, yang dikaitkan dengan jam kerja panjang dan stres. Sementara itu di Turki, tantangan politik dan finansial dinilai berkontribusi pada menurunnya rasa percaya dan keamanan.
Studi ini juga menyoroti bahwa negara kaya seperti Amerika Serikat dan Swedia tidak selalu berada pada tingkat kemakmuran setinggi yang diperkirakan. Keduanya unggul dalam stabilitas keuangan, tetapi lebih rendah pada dimensi makna dan hubungan. Temuan lain yang dicatat adalah negara dengan tingkat fertilitas tinggi cenderung melaporkan lebih banyak makna hidup, yang mengindikasikan adanya trade-off: kemajuan ekonomi dapat meningkatkan sebagian aspek kesejahteraan, namun berpotensi melemahkan aspek lain.
Secara metodologis, Global Flourishing Study menggunakan pendekatan etic, yakni pertanyaan yang sama untuk seluruh 22 negara agar hasilnya dapat dibandingkan. Namun, pendekatan ini juga dinilai berisiko kehilangan nuansa lokal tentang definisi kemakmuran. Karena itu, studi ini dipandang sebagai titik awal bagi riset lanjutan dengan pendekatan emic yang lebih menyesuaikan instrumen pada nilai, bahasa, dan konteks keseharian budaya tertentu.
Global Flourishing Study dipimpin oleh Victor Counted dari Regent University, Byron R. Johnson dari Baylor University, dan Tyler J. VanderWeele dari Harvard University. Para peneliti menilai pemetaan kemakmuran lintas negara dari waktu ke waktu dapat membantu merumuskan kebijakan dan program yang lebih tepat untuk meningkatkan kualitas hidup.

