BERITA TERKINI
The Melting Minds, Band Psychedelic Rock dari Gunungkidul yang Mencuri Perhatian lewat Video Musik “In A Land”

The Melting Minds, Band Psychedelic Rock dari Gunungkidul yang Mencuri Perhatian lewat Video Musik “In A Land”

Nama The Melting Minds belakangan ramai dibicarakan setelah sebuah video musik mereka muncul dan menyebar luas di YouTube. Tanpa kampanye promosi besar, banyak penonton menemukan karya tersebut melalui algoritma platform, lalu bertahan menonton karena pengalaman audiovisual yang ditawarkan terasa berbeda.

Video musik berjudul “In A Land” menjadi pemicunya. Secara visual, video ini menonjolkan kontras kuat antara elemen tradisional dan estetika modern, dengan latar lanskap alam Gunungkidul serta sejumlah wilayah di Pulau Jawa. Perpaduan itu menghadirkan kesan segar sekaligus membekas, membuat penonton tidak sekadar melewatkannya di beranda.

Daya tarik “In A Land” juga datang dari sisi musikal. The Melting Minds memadukan pengaruh musik era 1960-an dan 1970-an dengan eksplorasi bunyi yang eksperimental. Karakter tersebut diperkuat oleh sentuhan Iga Massardi sebagai produser, yang membuat hasil akhir terdengar lebih matang dan memiliki identitas yang tegas.

Di balik perhatian yang datang lewat “In A Land”, band ini memiliki perjalanan yang berangkat dari Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. The Melting Minds merupakan grup psychedelic rock yang terbentuk setelah vokalis sekaligus gitaris Slinky Bones pulang ke kampung halamannya pada akhir 2019 dan kembali bertemu teman-teman lama.

Dari pertemuan itu, Slinky bertemu Aamaga, yang kemudian menjadi multi-instrumentalist band. Aamaga melontarkan pertanyaan yang menjadi pemantik: mengapa Slinky belum juga membuat album di usianya saat itu. Pertanyaan tersebut mendorong Slinky membentuk band bersama kawan-kawannya, meski mereka disebut tidak memiliki pengalaman industri musik yang memadai.

Nama The Melting Minds dipilih untuk mencerminkan misi mereka: menciptakan musik yang secara harfiah “mencairkan otak” pendengarnya melalui bunyi-bunyi imajinatif dan tak biasa. Semangat itu dituangkan dalam album debut berjudul Alternate Universe, yang dirilis pada 3 Juni 2022 melalui Boneless Records.

Alternate Universe terinspirasi dari mitologi dan cerita rakyat di kampung halaman Slinky di Wonosari. Kisah-kisah tersebut dirangkai menjadi narasi gelap tentang ular mistis, penyihir, hingga makhluk astral bernama Evil Vermilion. Lirik-liriknya tidak semata menghadirkan fantasi, melainkan juga dimaksudkan sebagai jembatan antara cerita leluhur dan kondisi dunia masa kini.

Melalui narasi itu, The Melting Minds mengajak pendengar membuka pikiran dan menyadari bahwa di tengah kerumitan zaman, masih ada hal-hal baik yang patut diperjuangkan—semuanya dibalut dalam psychedelic rock yang eksploratif dan berlapis makna.

Dengan viralnya “In A Land” di YouTube, The Melting Minds kini memasuki babak baru. Mereka tidak lagi sekadar nama yang tersembunyi di sudut skena independen, melainkan contoh bagaimana musik dari daerah seperti Gunungkidul dapat menemukan jalannya sendiri untuk didengar lebih luas.