Medan — Mengisi waktu selama puasa Ramadan dengan mendengarkan musik, menonton film, bermain gim, atau sekadar menggulir media sosial kerap menjadi kebiasaan sebagian orang, terutama anak muda. Lantas, apakah aktivitas tersebut diperbolehkan saat berpuasa?
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Prof Muhammad Syukri Albani Nasution, mengatakan pembahasan soal ini perlu dilihat dari dua sisi. Hal itu ia sampaikan dalam Program Kultum Ramadan, Jumat (27/2/2026).
Sebelum masuk pada penjelasan tersebut, ia mengingatkan umat Islam pada sebuah hadis Nabi Muhammad SAW yang ia sebut sebagai peringatan agar puasa tidak berhenti pada aspek menahan lapar dan dahaga semata.
Ia mengutip, “Kam min shoimin laisa lahum min shiyamihi ilal juu’i wal athos,” yang berarti: berapa banyak orang berpuasa hanya sekadar menahan lapar dan dahaga.
Menurut Prof Syukri Albani, pesan hadis itu menjadi pengingat agar keberkahan puasa tidak hanya terbatas pada tidak makan dan tidak minum, sementara waktu lainnya terbuang untuk hal yang sia-sia.
Ia menjelaskan, secara terminologi kewajiban dalam puasa adalah menahan lapar dan haus. Namun, Ramadan juga menjadi momentum untuk memperbanyak amalan sunnah, salah satunya salat Tarawih yang hanya ada pada bulan Ramadan.
“Walaupun memang dalam terminologi puasa, yang paling wajib dalam puasa itu ya puasa doang. Salat Tarawih itu sunah, itikaf itu sunnah, tapi salat Tarawih itu biarpun dia sunah dia hanya ada di bulan Ramadan, nggak bisa dilakukan di bulan yang lain,” ujarnya. Ia menyarankan agar umat Islam tidak menjebak diri pada kesia-siaan selama Ramadan.
Meski demikian, Prof Syukri Albani berpandangan aktivitas seperti bermain gim atau mendengarkan musik bisa saja dilakukan dalam kondisi tertentu. Ia menilai, jika aktivitas tersebut justru membantu seseorang menjaga diri agar tidak melakukan pelanggaran yang lebih besar—misalnya berpotensi membatalkan puasa atau terjerumus pada dosa lain—maka bisa dipilih sebagai mudarat yang lebih ringan.
Ia mencontohkan, bila seseorang merasa tanpa gim atau musik ia justru berisiko melakukan hal yang lebih buruk, maka aktivitas itu dapat menjadi cara untuk menahan diri. Menurutnya, dalam kondisi bertemu dua keadaan darurat, seseorang diminta memilih yang lebih ringan.
Di akhir penjelasannya, Prof Syukri Albani mengingatkan pentingnya kemampuan menghindari dosa selama Ramadan. Ia berharap anak muda dapat beranjak dari pemahaman puasa yang hanya fokus pada makan dan minum menuju pemaknaan batiniah, yakni memperbaiki diri lahir dan batin.

