Yeow Kai Chai dikenal sebagai penulis puisi sekaligus jurnalis musik dan film. Bagi Yeow, ketertarikan pada sastra tidak datang sebagai jalur yang terpisah dari seni, melainkan tumbuh secara alami dari rasa ingin tahu terhadap berbagai bentuk karya kreatif. Ia menegaskan tidak membedakan “high-culture” dan “pop-culture”; baginya, seni adalah kerja kreatif yang kolaboratif.
Meski kini aktif di dunia sastra, Yeow mengatakan ia dibesarkan dalam lingkungan sederhana. Orang tuanya tidak menempuh pendidikan tinggi, tetapi tetap memberinya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Ia merasa lebih cocok dengan sastra dibanding sains, dan kemudian menekuni menulis sebagai disiplin yang dijalani dengan gembira. Menurutnya, menulis menuntut komitmen untuk menyediakan waktu, bahkan jika hanya satu hingga dua jam setelah bekerja.
Yeow juga menyoroti arti komunitas dalam perjalanan kreatifnya. Ia merasa beruntung bisa berteman dengan penulis yang memiliki minat serupa, bukan sekadar membangun jejaring. Ia menyebut salah satu hal yang menarik dari Singapura adalah skena keseniannya yang relatif kecil, sehingga ruang berkarya kerap beririsan dengan lingkaran pertemanan.
Minat menulis Yeow mulai sejak usia 7 atau 8 tahun. Ia menulis cerita pendek dan puisi, serta mengikuti kompetisi menulis tingkat nasional. Kecintaannya pada musik juga membawanya menulis tentang musik—sebuah proses yang ia sebut berjalan alami. Ia mengaku menikmati pekerjaan tersebut, bahkan menyiratkan bahwa ia akan tetap menulis tentang musik sekalipun tidak dibayar.
Perjalanannya kemudian membawanya menjadi Festival Director Singapore Writers Festival (SWF) setelah diajak oleh komite festival yang berada di bawah Art Council. Yeow mengatakan ia diberi keleluasaan untuk mencampurkan sastra dengan berbagai medium dan menembus batas konvensional. Baginya, kesempatan itu merupakan mimpi yang menjadi kenyataan: bekerja bersama orang-orang yang ia kagumi dan menyaksikan kolaborasi lintas bidang seni.
Tema SWF tahun itu, “Island of Dreams”, dipilih bertepatan dengan peringatan 50 tahun kemerdekaan Singapura. Yeow memandang 50 tahun sebagai momen untuk menengok pencapaian masa lalu sekaligus membayangkan tujuan berikutnya. Tema tersebut, menurutnya, juga mengarah pada refleksi personal, dengan rujukan metaforis yang dapat dibaca berlapis—termasuk inspirasi dari lagu John Lennon, “Imagine”. Dalam penjelasannya, “islands” bisa dimaknai sebagai wadah, sementara “dreams” dapat merujuk pada aspirasi dan harapan.
Yeow menilai warga Singapura sering dipandang pragmatis dan praktis, dengan dorongan kuat untuk meraih sukses. Karena itu, ia melihat perlunya refleksi mengenai makna “sukses” itu sendiri—apakah semata diukur dari uang, atau juga mencakup kepuasan emosional, intelektual, dan hal-hal yang lebih abstrak. Dalam kerangka itu, SWF diposisikan sebagai ruang gagasan dan percakapan tentang hal-hal yang dianggap penting.
Dalam penerjemahan tema ke program, SWF berupaya mengundang pekerja sastra dari negara-negara kepulauan. Indonesia dipilih sebagai Country Focus. Yeow menyebut Indonesia sebagai tetangga terdekat yang besar, dan berbagai peristiwa di Indonesia dapat berdampak pada Singapura—ia memberi contoh asap dari pembakaran hutan di Sumatra. Karena itu, menurutnya, kedua negara perlu saling mengenal masyarakat dan budaya masing-masing. Selain Indonesia, SWF juga mengundang pekerja sastra dari Taiwan, Jepang, Fiji, Kuba, Selandia Baru, dan negara lain, sambil tetap membuka ruang bagi penulis dari negara non-kepulauan.
Yeow mengatakan tema itu juga dimaksudkan untuk memancing munculnya opini dan refleksi dari publik Singapura mengenai aspirasi mereka. Ia menilai warga Singapura kerap tidak banyak mengenal tetangga sendiri, dan perjalanan ke luar negeri sering berhenti pada tingkat turisme. Baginya, pertukaran ide dan ikatan antarkebudayaan diperlukan untuk memahami isu kemanusiaan yang mendasar—hidup, cinta, dan kematian—yang dirasakan semua orang, meskipun cara menghadapinya berbeda.
Salah satu ciri yang ditekankan dalam SWF adalah upaya menjadi festival sastra yang multibahasa. Yeow menjelaskan, karena festival menyambut tamu dari berbagai negara dan bahasa, penerjemah banyak digunakan. Ia menilai banyak festival sastra terasa terlalu berpusat pada bahasa Inggris dan kurang memberi perhatian pada sastra daerah. Sementara itu, di Singapura yang memiliki empat bahasa—Mandarin, Melayu, Tamil, dan Inggris—SWF berusaha memberi panggung yang adil bagi semuanya. Ia juga menekankan pentingnya subtitle dan translasi untuk membantu audiens memahami program lintas budaya, dengan bahasa Inggris sebagai titik temu.
Ketika membahas Country Focus Indonesia, Yeow menilai audiens Singapura dan internasional dapat mengalami budaya Indonesia yang mungkin belum mereka kenal. Ia mencontohkan penampilan Ubiet & Keroncong Tenggara, yang menghadirkan sastra Indonesia melalui interpretasi lagu-lagu lama dalam format musik keroncong. Menurutnya, pendekatan lewat musik bisa menjadi jembatan: penonton memahami lapisan permukaan terlebih dahulu sebelum masuk ke konten yang lebih berat.
Dalam pandangannya tentang seni, Yeow mengatakan seni bisa menjadi cerminan masyarakat sekaligus respons terhadap fenomena sosial, namun juga dapat berdiri di luar dua kategori itu karena sifatnya yang abstrak. Ia menilai upaya mengotakkan seni justru bisa menyulitkan pemahaman. Seni, baginya, dapat lahir dari respons sosial maupun dari kebutuhan kepuasan batin—bahkan menjadi “painkiller” yang meredakan kegelisahan.
Soal posisi sastra dalam pembentukan bangsa, Yeow menyebut sastra sebagai topik yang cukup kontroversial di Singapura. Ia mengamati minat kelas sastra di sekolah menurun, dan statusnya yang dulu wajib kini menjadi opsional. Ia mengaitkan hal ini dengan kecenderungan pragmatis yang memandang sastra sebagai bidang subjektif dan sulit diukur, berbeda dengan matematika yang dianggap pasti.
Namun, Yeow juga melihat perkembangan lain: semakin banyak buku diterbitkan dan penerbit baru bermunculan. Ia menyebut periode sekarang sebagai masa dengan jumlah publikasi yang tinggi, didukung oleh akses internet yang memungkinkan penulis mempublikasikan karya lewat blog dan media sosial. Ia menyoroti banyak penulis muda—bahkan remaja—yang memanfaatkan internet untuk memperkenalkan karya tanpa harus melalui penerbit.
Yeow turut menyinggung program Creative Arts Program dari Kementerian Pendidikan Singapura yang telah berjalan 25 tahun. Program itu, menurutnya, ditujukan bagi murid yang memiliki tradisi menulis dan telah melahirkan sejumlah penulis dikenal. Yeow terlibat sebagai mentor, berbagi pengalaman dan memberikan masukan bagi penulis muda. Ia menilai, meski sastra menjadi opsional di sekolah, tetap ada inisiatif yang mendukung regenerasi sastra Singapura dan membuka kesempatan belajar menulis.
Ditanya apakah sastra merangkum keseharian masyarakat Singapura, Yeow menjawab tidak sepenuhnya. Namun ia menekankan bahwa dalam komunitas tertentu sastra hidup, termasuk lewat inisiatif akar rumput yang membuat acara sastra sendiri.
Mengenai sasaran SWF, Yeow mengatakan festival ditujukan bagi publik umum sekaligus penggemar sastra. Ia menyebut SWF ingin membuat sastra lebih fleksibel dan dapat dinikmati luas, termasuk melalui musik, pertunjukan, dan bentuk seni lain, tanpa menuntut audiens menjadi pelajar literatur. Karena itu, program SWF dirancang memadukan berbagai disiplin.
SWF telah berlangsung selama 29 tahun dan, menurut Yeow, berkembang pesat terutama sejak menjadi agenda tahunan—sebelumnya merupakan biennale hingga 2007. Ia menyebut dampaknya terasa dalam empat hingga lima tahun terakhir, seiring kenaikan jumlah pengunjung setiap tahun. Saat itu, SWF mencatat sekitar 20.000 pengunjung per tahun dan menargetkan angka yang lebih tinggi, sembari memperluas keragaman audiens agar sastra dapat diakses semua kalangan.
Selain acara utama tahunan, SWF juga memiliki program SW Pop yang berlangsung sepanjang tahun. Yeow menjelaskan adanya kelas-kelas workshop intensif bersama penulis mapan, meliputi topik seperti penulisan musik, esai kolom, hingga memoar, yang dipandu langsung oleh para ahli.

