BERITA TERKINI
Menjaga Napas Tradisi Lin Xin di Pà Vầy Sủ

Menjaga Napas Tradisi Lin Xin di Pà Vầy Sủ

Komune Pà Vầy Sủ dan sejumlah wilayah di bagian barat provinsi menjadi tempat tinggal mayoritas masyarakat etnis Nùng. Di tengah kehidupan komunitas, bunyi alat musik Lìn Xìn telah lama melekat sebagai bagian dari identitas dan ruang spiritual mereka, berdampingan dengan festival, pakaian tradisional, serta lagu-lagu rakyat.

Lìn Xìn dimainkan dalam beragam peristiwa, mulai dari festival musim semi, pernikahan, syukuran rumah baru, malam perjodohan, hingga pemakaman. Setiap momen menghadirkan nuansa yang berbeda: kadang terdengar mendalam dan menyentuh, di lain waktu riang dan menyegarkan. Pada festival musim semi, kehadiran Lìn Xìn dianggap penting, terutama untuk mengiringi pertunjukan nyanyian tradisional yang memuat tema-tema seperti “musim semi berkat Partai” dan “merayakan Partai - merayakan musim semi - merayakan pembaharuan negara.”

Pengrajin Váng Vần Séng mengisahkan ketertarikannya pada Lìn Xìn sejak kecil. Pada masa ketika listrik belum tersedia, ia kerap mendengar ayahnya dan para pengrajin desa memainkan alat musik itu di dekat api unggun pada malam musim dingin. Ia mengenang bunyinya sebagai suara yang mengalir, menyerupai aliran sungai di antara pegunungan dan hutan luas. Dari ketertarikan itu, Séng belajar secara mandiri, berlatih, dan perlahan menjadi salah satu pemain yang terampil di wilayah tersebut.

Lin Xin merupakan alat musik kuno masyarakat Nùng di Pà Vầy Sủ dengan struktur sederhana yang disebut menyerupai kecapi Nguyệt. Badannya terbuat dari kayu, panjang sekitar 70 cm, dengan leher sekitar 30 cm dan empat fret berjarak sama. Bagian kepala memiliki lubang untuk memasukkan senar dan dihiasi benang brokat khas Nùng. Kotak resonansinya berbentuk silinder pipih berdiameter sekitar 40 cm dan tebal 6 cm, memiliki banyak lubang kecil serta satu lubang di bagian belakang berdiameter sekitar 5 cm sebagai jalur keluarnya suara. Bagian tepi kotak resonansi dihiasi potongan kecil baja tahan karat, aluminium, atau perak.

Lin Xin memiliki empat senar yang dapat dibuat dari rambut kuda, nilon, atau kawat baja tipis. Namun, untuk menghasilkan suara yang penuh dan beresonansi, pemain dituntut memahami ritme lagu rakyat dan merasakan semangat tiap melodi. Bagi Séng, setiap karya yang dimainkan memuat kisah tentang desa, cinta antarpasangan, harapan panen melimpah, hingga lagu yang didedikasikan untuk Partai.

Kepala Dinas Kebudayaan Komune Pà Vầy Sủ, Duong Van Phu, menyebut Váng Vần Séng sebagai salah satu praktisi Lin Xin yang paling terampil di daerah itu. Ia menilai peran Séng tidak hanya penting dalam pertunjukan, tetapi juga dalam pengajaran kepada generasi muda. Upaya tersebut dipandang sebagai faktor penting untuk melestarikan warisan budaya tak benda setempat, sekaligus menjadi fondasi bagi gerakan budaya dan seni massal yang dikaitkan dengan pengembangan pariwisata masyarakat.

Menurut pihak Dinas Kebudayaan Komune Pà Vầy Sủ, ketika banyak nilai tradisional menghadapi ancaman kepunahan, peran pengrajin rakyat menjadi semakin menonjol. Mereka dipandang sebagai “arsip hidup” dan jembatan antara tradisi dan modernitas, yang membantu mencegah terputusnya hubungan budaya antargenerasi.

Perubahan gaya hidup modern membuka peluang baru bagi masyarakat dataran tinggi, namun juga menghadirkan tantangan. Anak muda merantau untuk belajar dan bekerja serta semakin akrab dengan hiburan modern, sehingga melodi tradisional perlahan kurang dikenal. Menghadapi situasi itu, Séng memilih mengajar anak-anak memainkan Lin Xin kapan saja dan di mana saja. Setiap pekan pada malam hari sepulang sekolah, anak-anak berkumpul di beranda rumahnya. Ia membimbing satu per satu, membetulkan postur, mengajarkan cara menyetel, dan menjaga ritme. Menurutnya, mengajar bukan hanya soal teknik, melainkan juga menjelaskan mengapa leluhur begitu menghargai bunyi alat musik tersebut.

Selain pelajaran bermain, Séng juga menyampaikan asal-usul melodi, adat istiadat, dan tradisi masyarakat Nùng. Ia memandang belajar Lin Xin sebagai bagian dari belajar bersikap dan menumbuhkan cinta pada kampung halaman. Pengrajin Chang Thi Ve, yang telah lama terlibat dalam kegiatan budaya rakyat di Pà Vầy Sủ, menilai Lin Xin bukan sekadar alat musik, melainkan jiwa dari banyak ritual dan aktivitas komunitas Nùng. Ia juga menekankan bahwa upaya pelestarian memerlukan dukungan pemerintah dan sektor kebudayaan, termasuk melalui kursus pelatihan, pembukaan kelas, serta penumbuhan semangat pada generasi muda agar warisan tersebut benar-benar “hidup” di masyarakat.

Di luar tampil dan mengajar, Séng juga membuat alat musik sendiri. Ia memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan seperti potongan kayu, pipa air, dan kaleng susu untuk membentuk Lin Xin dan Nhi, masing-masing dengan karakter bunyi tersendiri. Dalam festival persatuan nasional dan festival musim semi, permainannya kerap menjadi perhatian dan menarik banyak orang. Bunyi yang sederhana itu dinilai membangkitkan kebanggaan sekaligus memperkaya kehidupan spiritual masyarakat.

Di tengah perubahan di wilayah perbatasan, suara Lin Xin di Pà Vầy Sủ masih bergema sebagai pengingat akar budaya. Selama ada pengrajin yang terus mengajarkan dan merawat tradisi, warisan musik masyarakat Nùng diharapkan tetap terjaga dan tersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya.