BERITA TERKINI
Selera Musik Anak Muda Bandung Bergeser, Lagu-Lagu Indonesia Timur Makin Akrab di Playlist

Selera Musik Anak Muda Bandung Bergeser, Lagu-Lagu Indonesia Timur Makin Akrab di Playlist

Bandung—Deretan lagu di layar ponsel Sabrina (29), warga Kota Bandung, menunjukkan selera yang tak lagi lekat dengan stereotipe tanah Pasundan. Dalam playlist-nya, musik Sunda nyaris tak terdengar. Sebaliknya, lagu-lagu dari Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Maluku justru lebih sering muncul dengan irama enerjik dan lirik berbahasa daerah yang kini akrab di telinga generasi muda.

“Kalau lagi buka Spotify atau TikTok, yang sering muncul ya lagu-lagu timur. Tapi gak niat nyari gitu,” kata Sabrina saat ditemui belum lama ini.

Sabrina mengaku jarang mendengarkan lagu Sunda secara mandiri. Musik Sunda lebih sering ia temui dalam situasi tertentu, seperti acara keluarga, hajatan, atau ketika diputar orang tuanya di rumah. “Di rumah suka dengar dari orang tua. Beberapa kali mamah suka putar musik Sunda, tapi gak tiap hari. Kalau dengar sendiri jarang sih,” ujarnya.

Masuknya lagu-lagu Indonesia Timur ke keseharian Sabrina juga bukan lewat radio atau televisi. Ia menyebut potongan video singkat di TikTok dan Instagram menjadi pintu awal perkenalan. “Karena sering FYP di medsos, jadinya suka penasaran kalau dengerin full-nya gimana. Tapi gak pernah yang niat masukin ke playlist harian gitu,” ungkapnya.

Menurut Sabrina, sejumlah lagu dari Indonesia Timur terasa mudah dinikmati. Ia mencontohkan Tabola Bale (Silet Open Up) dan Pica Pica yang dipopulerkan Juan Reza dari NTT sebagai lagu yang “easy listening”. “Karena sekarang emang lagi viral lagu-lagu Indonesia Timur, beberapa juga ada yang didengerin karena musiknya easy listening,” tuturnya. “Lagu Tabola Bale sama Pica Pica paling sering didengar yang baru tahu kalau itu ternyata dari (Indonesia) Timur,” tambahnya.

Meski begitu, Sabrina tetap mengenal beberapa musisi Sunda yang namanya sudah lama dikenal, seperti Doel Sumbang. Ia juga mengetahui sejumlah lagunya. “Lagu Doel Sumbang tau, lagu Teteh terus yang sempat ngehits juga lagu Rungkad,” katanya.

Pengalaman Sabrina menjadi potret kecil pergeseran selera musik anak muda, khususnya di Jawa Barat. Musik dari Indonesia bagian timur kini kian sering menjadi teman sehari-hari generasi digital. Irama yang ritmis, lirik sederhana, serta nuansa ekspresif membuat lagu-lagu tersebut mudah melekat di telinga dan lentur digunakan untuk berbagai jenis konten.

Fenomena serupa terlihat dalam kegiatan ujian praktik olahraga di salah satu SMAN negeri di Kota Bandung. Di lapangan terbuka, siswa kelas 12 memutar lagu Indonesia Timur berjudul Orang Baru Lebe Gacor yang dipopulerkan Chesylino, Ecko Show, dan Juan Reza.

Sementara itu, musik Sunda disebut kian menjauh dari keseharian sebagian anak muda. Beberapa di antaranya mengaku lebih mengenal musik Sunda sebagai tradisi, bukan bagian dari ekspresi populer. “Kalau lagu Sunda jarang muncul di media sosial. Jadi ya jarang kepikiran buat dengerin,” kata Dimas (18), seorang pelajar.

Dimas menilai algoritma media sosial ikut menentukan musik apa yang kemudian akrab di telinga. “Yang sering muncul, itu yang akhirnya kita dengar terus,” ucapnya.

Perubahan ini memunculkan pertanyaan: mengapa musik dari timur Indonesia justru menemukan momentumnya di era digital, sementara musik Sunda terasa tertinggal? Apakah hal itu dipengaruhi selera, cara penyajian, atau belum adanya strategi yang kuat untuk menyapa generasi baru?